Jelly gamat Obat Penyakit Darah Tinggi Alami

Informasi Kesehatan Huderi’s Blog

Anda Menderita panyakit Darah Tinggi atau sering dikenal Hipertenti ? Mencari Pengobatan Penyakit Hipertensi yang Efektif ? Berikut kami sajikan Produk Kesehtan Jelly gamat Obat Penyakit Darah Tinggi terbukti secara ilmiah efektif sebagai Obat Darah Tinggi.

Alasan Ilmiah Khasiat Produk Kesehatan Jelly gamat Obat Penyakit Darah Tinggi Alami

Jelly gamat Obat Penyakit Darah TinggiJelly gamat Obat Penyakit Darah Tinggi Alami – Jelly Gamat Gold-G dibuat dari bahan bahan alami berupa gamat atau teripang (sejeniis hewan laut), Jelly Gamat Gold-G Sea Cucumber dalam istilah sehari-hari disebut Timun Emas atau Teripang / Gamat adalah bahan makanan yang berasal dari laut di Asia (Pulau Langkawi, Malaysia).

Keistimewaan Gold-G Sea Cucumber dibandingkan Teripang pada umumnya: Merupakan species terpilih dari 1000 species teripang di dunia. Jenis species terpilih ini memiliki warna keemasan (golden) dan sejarah sejak ratusan tahun yang lalu telah membuktikan manfaat dan khasiat dari teripang ini untuk berbagai masalah kesehatan dan kecantikan.

Jelly Gamat Gold-G (teripang istilah lainnya) mampu melembutkan dan melebarkan pembuluh darah dan menjaga elastisitas pembuluh darah serta mengurangi kekentalan darah. Kandungan Glucosaminoglycans yang terkandung dalam gold-g juga mencegah penggumpalan darah sehingga mengurangi tekanan darah. selain itu pengurangan konsumsi garam dalam diet akan membantu dalam proses mempercepat penyembuhan.

“Efektivitas teripang mengencerkan darah beku disebabkan kandungan mucopolusacharida (MPS) yang populer sebagai glycosaminoglycans (GAGs). “MPS dan GAGs memberikan efek pelendiran dinding sel” kata WLter K M Yee, ahli gizi dari luxor network, malaysia. Artinya teripang sebagai antithrombogenik untuk mencegah penggumpalan melalui pengenceran darah.”

Testimoni Kesembuhan Penderita Penyakit Darah Tinggi

Nama               : Lie Kwi Jin
Umur               : 62 Tahun
Alamat            : Lampung
Keluhan          : Tekanan Darah Tinggi
Jenis Prodak : Gamat Gold-G

Keadaan waktu darah tinggi saya naik menjadi 230 agak sempoyongan, kepala terasa berat, kaki saya bengkak sudah lama, tapi dulu saya tidak mengetahui panyakit apa, saya punya penyakit kencing manis (diabetes) juga tidak saya obati. Setelah itu saya minum Gold-G, badan terasa enteng, bengkak-bengkak saya kempes, saya cek tekanan darah saya turun menjadi 130/80. Wah! Luar biasa

Saya bingung karena saya makan tidak pantang, wajah saya memerah, segar, keringatan terus. Pertama-tama minum Gold-G, say kencing terus. setelah minum botol yang ke-2 kencing saya kembali normal. Lutut kaki saya juga sudah tidak ngilu-ngilu dan sekarang jalan saya sudah gagah dan tekanan darah saya sudah normal. Gold-G is the best

Nama               : Hj. Baiq Sukarni
Umur               : 53 Tahun
Alamat            : Lombok
Keluhan          : Tekanan darah tinggi
Jenis Prodak : Gamat Gold G

Selama 6 tahun saya selalu minum obat dari dokter. Tapi apabila saya tidak minum satu hari saja apalagi kalau kurang istirahat pasti saya akan merasakan tekanan darah saya naik. Kebetulan saya juga di rumah bisa ngecek sendiri berapa tekanan darah saya setiap saat saya butuhkan.

Alhamdulillah, setelah saya kenal Gold-G dan rutin mengkonsumsinya tensi saya tidak terlalu mengkhawatirkan. Sehingga saya tidak lagi harus minum obat hipertensi. Selain itu saya juga mempunyai masalah asam urat saya (6,1). Setelah sebulan saya minum Gold-G, saya periksakan ke Laboratorium ternyata angka asam urat turun menjadi (3,1).

Oleh sebab itu rasa-rasanya saya ingin sekali memperkenalkan Gold-G di daerah saya di Lombok. Mudah-mudahan dengan niat ingin membantu orang-orang yang punya keluhan seperti saya melalui produk ini mendapatkan nilai ibadah di sisi Yang Maha Kuasa.

Cara Pemesanan Produk Jelly gamat

pemesanan produkDemikianlah sajian informasi mengenai Cara Menyembuhkan Penyakit Darah Tinggi Paling Cepat dengan Jelly gamat Obat Penyakit Darah Tinggi alami. Semoga bermanfaat dan menjadi jalan kesembuhan bagi anda yang saat ini mengalami keluhan penyakit polip, do’a dan harapan terbaik tetap kita panjatkan kepada Allah SWT. agar lekas diberikan kesembuhandan dimudahkan dalam segala sesuatunya, aamiin. Pesan sekarang juga Obat Penyakit Darah Tinggi Jelly gamat Gold-g !!

Iklan

About Agen Obat Herbal

Distributor Penjual Obat Herbal Alami terbesar di Indonesia kami dapat Mengirim barang Terlebih dahulu dan Pembayaran dilakuan setelah barang diterima.

Posted on Februari 5, 2013, in Jelly gamat Obat Penyakit Darah Tinggi Alami and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Ma’rifatul Insan

    A. Prinsip Penciptaan Manusia

    Allah berfirman :

    ” Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al Insan/ 76:1)

    ” Dan Tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?” (QS. Maryam/ 19:67)

    Kedua ayat di atas dimulai dengan kalimat istifhan. Yang menuntut perhatian supaya manusia memikirkan diri dan proses kejadiannya, sehingga dengan demikian diharapkan, ia akan bertingkah laku dengan benar dalam kehidupan di dunia ini, sesuai dengan fungsi dan tujuan penciptaannya. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah. Pada mulanya ia bukanlah apa-apa, tidak ada, tidak berwujud dan tidak berbentuk. Kemudian atas kehendakNya ia diciptakan. Ihwal penciptaan manusia ini, menunjukkan ke-Maha Kuasaan Allah. Hal ini harusnya menjadi renungan kita, betapa tanpa kekuasaan-Nya diri kita bukanlah apa-apa dan tidak ada artinya.

    B. Prosess Penciptaan Manusia
    Dalam penciptaan manusia, terdiri dua proses, yaitu: (1) Proses Azali dan (2) Proses Alami.

    1. Proses Azali
    Proses azali adalah proses dimana peran ke Maha Kun Fayakunan Allah terjadi, tidak ada sedikitpun campur tangan dan peran serta manusia. Seperti dalam penciptaan Adam, dia diciptakan dari tanah liat yang dibentuk. Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam. Dan Isa Al Masih yang diciptakan tanpa seorang ayah.
    Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut:

    26. Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS. Al Hijr/ 15:26)

    1. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu. (QS. An-Nisa/ 4:1)

    59. Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah Dia. (QS.Ali Imran/ 3 : 59)

    2. Proses Alami
    Proses alami adalah proses kejadian manusia setelah Adam dan Hawa terkecuali Isa as. Yaitu terjadinya hubungan antara laki-laki dan perempuan, bertemunya sel sperma dan indung telur (ovum) di dalam rahim perempuan. Dalam rahim seorang ibu, ia dibentuk dengan melalui beberapa tahapan dan dalam waktu yang telah ditetapkan. Kemudian setelah sempurna kejadiaannya, dia dilahirkan ke dunia sebagai seorang bayi, lalu Allah tumbuhkan ia menjadi dewasa dan menjadi tua, kemudian Allah wafatkan.
    Sebagaimana firman Allah di bawah ini:

    12. Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 13. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14. Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. 15. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. 16. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat. (Al Mu’minun/ 23 :12-16)

    Dan juga firman Allah :

    1. Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An Nisa/ 4 : 1)

    Dan juga firman Allah :

    5. Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) Sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan kamu lihat bumi Ini kering, kemudian apabila telah kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (Al Hajj/ 22 : 5)

    C. Bahan Dasar (Bentuk dan Isi) Penciptaan Manusia.

    1. Bentuk dasar.
    Bahan dasar manusia adalah tanah yang tidak berharga, sebagaimana diterangkan dalam ayat di bawah ini:

    7. Yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. 8. Kemudian dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. (QS. As Sajdah/ 32 : 7-8)

    Dan juga firman Allah :

    2. Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu). (Al An’am/ 6 : 2)

    Seorang manusia yang gagah perkasa, tampan atau cantik rupawan, hanyalah berbahan dasar tanah liat/tanah tembikar yang merupakan bahan terendah yang kurang berharga. Bila manusia suka memperhatikan asal kejadiannya ini, maka ia tidak akan menyombongkan diri, menentang dan mendurhakai Allah, penciptanya. Ia akan tunduk merendahkan dirinya kepada Allah, sebab hanya atas karunia-Nyalah ia menjadi ada.

    2. Isi Dasar
    Dari bahan dasar yang sangat rendah tersebut, kemudian Allah mengisinya dengan sesuatu yang sangat tinggi nilainya yaitu ruh-Nya. Sebagaimana firman-Nya.

    9. Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. As Sajdah/ 32 : 9)

    Dan juga firman Allah :

    29. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud[796].

    [796] dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan.

    Dengan demikian manusia memiliki hubungan yang sangat dekat sekali dengan Allah karena manusia diberi ruh-Nya
    Dari dua asal yang sangat berbeda ini menunjkan adanya dua hal yang berbeda. Jasad manusia yang diciptakan dari bahan dasar tanah maka ia memiliki kecenderungan yang sangat kuat kepada tanah yaitu :

    14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran/ 3 : 14)

    Sedangkan ruh (jiwa) yang berasal dari Allah, maka ia juga memiliki kecenderungan dan kebutuhan kepada petunjuk Allah Yaitu Ad Dien, jalan menuju takwa :

    15. Katakanlah: “Inginkah Aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah, dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran/ 3 : 15)

    D. Sebutan Manusia

    Dalam Al Qur’an manusia disebut sebagai:
    1. Al Basyar
    Istilah ini menunjukan pada hakikat manusia sebagai makhluk bilogis, dikaitkan dengan sifat-sifat biologis seperti: makan, minum, dll.
    Dalam Al Qur’an Allah berfirman:

    47. Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin Aku mempunyai anak, padahal Aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun.” Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah Dia. (Ali Imran/ 3 : 47)

    110. Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al Kahfi/ 8 : 110)

    33. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu[1215] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu[1216] dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait[1217] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (Al Ahzab/ 33 : 33)

    31. Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), Kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka”. Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha Sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia.” (Yusuf/ 12 : 31)

    2. Al Insan

    1. Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? 2. Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu kami jadikan dia mendengar dan Melihat. 3. Sesungguhnya kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Al Insan/ 76 : 1 – 3)

    Istilah ini berkaitan dengan sifat-sifat negatif yang menempel pada diri manusia seperti:
    a. Lemah

    28. Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (An Nisa/ 4 : 28)

    b. Mudah Putus Asa dan Tidak Bersyukur

    9. Dan jika kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari kami, kemudian rahmat itu kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. (Hud/ 11 : 9)

    c. Tidak Konsisten

    34. Dan dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Ibrahim/ 14 : 34)

    d. Bodoh

    72. Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (Al Ahzab/ 33 : 72)

    e. Banyak Membantah

    54. Dan Sesungguhnya kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran Ini bermacam-macam perumpamaan. dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. (Al Kahfi/ 18 : 54)

    f. Banyak Melawan

    4. Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. (An Nahl/ 16 : 4)

    77. Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa kami menciptakannya dari setitik air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! (Yaasin/ 36 : 77)

    g. Resah Gelisah Dan Segan Membantu

    19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. 20. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, 21. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, (Al Maarij/ 70 : 19 – 21)

    3. Khalifah
    Sebagaimana firman-Nya:

    105. Dan sungguh telah kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. (Al Anbiya/ 21 : 105)

    107. Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al Anbiya/ 21 : 105).

    Manusia akan diminta pertanggung jawaban atas mandat yang diberikan kepadanya dari Allah. Sebagaimana firman-Nya:

    14. Kemudian kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (Yunus/ 10 : 14)

    E. Potensi Dasar Manusia
    Allah menciptakan manusia denga memberikan kelebihan dan dan keutamaan yang tidak diberikan kepada mahluk lainnya. Kelebihan dan keutamaan ini, berupa potensi dasar yang disertakan Allah atasnya, baik potensi internal (yang terdapat dalam dirinya) maupun eksternal (yaitu potensi yang disertakan Allah untuk membimbingnya). Potensi ini adalah modal utama bagi manusia, untuk melaksanakan tugas dan memikul tanggung jawabnya. Oleh karena itu, potensinya harus diolah dan didaya-gunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga ia dapat menunaikan tugas dan tanggung jawabnya dengan sempurna.

    1. Potensi Internal
    Potensi internal ialah yang menyatu dalam diri manusia itu sendiri, terdiri :

    a. Potensi Fitriyah.
    Manusia diberikan oleh Allah potensi fitriyah. Maka fitrah ialah Al-Islam sebagaimana yang kita fahami dalam ayat dan hadits di bawah ini:

    30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar Ruum/ 30 : 30)

    Berkenaan dengan ayat ini Rasullullah saw bersabda :
    An Abi Hurairah, qola Nabi. Ma min mauludin illa yuladu ala fitrati, fa’abawahu yahudanihi au yunasorunihi au yumazusanihi. Artinya : tiada bayi yang dilahirkan kecuali lahir dalam keadan fitrah . maka ayah bundanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Mutafaqun ’ alaih, Lu’lu’Wal Marjan)

    Dengan demikian, pada diri manusia sudah melekat (menyatu) satu potensi kebenaran (dienullah). Kalau ia gunakan potensinya ini, ia akan senantiasa berjalan diatas jalan yang lurus. Karena Allah telah membimbingnya semenjak dalam alam ruh (dalam kandungan). Sebagaimana firman-Nya:

    172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”, (QS. Al A’raaf/ 7 : 172)

    b. Potensi Ruhiyah
    Potensi Ruhiyah adalah potensi yang dilekatkan pada hati nurani untuk membedakan dan memilih jalan yang haq dan yang batil, jalan menuju ketaqwaan dan jalan menuju kedurhakaan. Allah berfirman :

    7. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), 8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (Asy Syams/ 91 : 7 – 8)

    Di dalam hati setiap manusia telah tertanam potensi ini, yang dapat membedakan jalan kebaikan (kebenaran) dan jalan keburukan (kesalahan). Dari kemampuan ini, Nabi pernah bersabda:

    Dari ”Wabishah bin Ma’bab ra” berkata : saya datang kepada Nabi saw untuk bertanya tentang bakti (al-birri). Maka sebelum saya betanya, Nabi bertanya: Kau datang untuk bertanya tentang bakti? Jawabku: Ya, Bersabda Nabi SAW: ”Tanyakan pada hatimu. Bakti itu ialah semua perbuatan yang menimbulkan ketenangan dalam hati dan jiwa. Sedangkan dosa, itu semua perbuatan yang menimbulkan keraguan dalam hati dan jiwa. Meskipun telah mendapat fatwa dari orang-orang”. (HR Ahmad dan Damiri).
    Hadist ini menunjukkan bahwa potensi inilah yang menentukan arah kehidupan manusia.

    c. Potensi Aqliyah
    Potensi aqliyah terdiri dari panca indera dan akal pikiran (sam’a, basyar, dan fu’ad). Dengan potensi ini, manusia dapat membuktikan dengan daya naluri dan ilmiah, tentang ”kekuasaan” Allah. Serta dengan potensi ini, ia dapat mempelajari dan memahami dengan benar, apa saja yang bermanfaat baginya, sebagai sesuatu yang tentu harus diterima dan hal yang mudharat baginya dan tentu harus dihindarkan.
    Allah berfirman:

    78. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (An Nahl/ 16 : 78)

    Potensi inilah yang akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah. Dalam hal ini Allah berfirman:

    36. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Isra/ 17 : 36)

    Manusia yang tidak mempergunakan potensi ini, maka sungguh ia telah menyia-nyiakan kelebihan dan keutamaan yang telah Allah berikan. Sehingga ia tidak pantas mendapat fadilah disisi Allah, tetapi ia sama dengan makhluk yang terendah yaitu binatang ternak, bahkan lebih hina lagi. Sebagai mana firman-Nya:

    179. Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raf/ 7 : 179)

    d. Potensi Jasmaniyah
    Potensi jasmaniyah yaitu kemampuan tubuh manusia yang telah Allah ciptakan dengan sempurna, baik rupa, kekuatan dan kemampuan. Sebagaimana firman-Nya:

    4. Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (At Tin/ 95:4)

    3. Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu). (At Taghaabun/ 64 : 3)

    Potensi jasmaniyah ini adalah merupakan basthoh fil khalqi (fil jism) sebagai modal utama untuk melaksanakan tugasnya.

    2. Potensi Eksternal
    Disamping potensi internal yang melekat pada diri manusia. Allah juga sertakan potensi eksternal sebagai pengarah dan pembimbing potensi-potensi internal itu agar berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Tanpa arahan potensi eksternal ini, maka potensi internal tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan.

    a. Potensi Huda
    Yaitu petunjuk Allah yang mempertegas nilai kebenaran yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya untuk membimbing umat manusia ke jalan yang lurus. Maka Allah berfirman :

    3. Sesungguhnya kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Al Insan/ 76 : 3)

    38. Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Al Baqarah/ 2 : 38)

    b. Potensi Alam
    Alam semesta adalah merupakan potensi eksternal untuk menyertai umat manusia melaksanakan fungsinya. Seluruh alam semesta ini merupakan ayat-ayat Allah, bila ditafakuri maka manusia akan mendapatkan kebenaran. Maka sebagaimana firman-Nya:

    190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, 191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran/ 3 : 190 – 191).

    Dan Juga firman-Nya:

    21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, 22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Al Baqarah/ 2 : 21-22).

    F. Tujuan Penciptaan Manusia
    Allah SWT menegaskan bahwa, Allah menciptakan manusia tidaklah dengan main-main tetapi dengan tujuan yang haq. Dengan diberi tugas dan kewajiban yang akan diminta pertanggung jawaban. Sebagaimana Firman Allah di bawah ini:

    115. Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Al Mu’min/ 23 : 115)

    Tujuan penciptaan manusia adalah mengabdi kepada-Nya, dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Allah berfirman:

    56. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz Dzariyaat/ 51 : 56)

    Dengan demikian maksud Allah menciptakan manusia itu hanyalah untuk mengabdikan diri kepada-Nya, beribadah kepada-Nya. Beribadah yang benar adalah: Beribadah yang berlandaskan tauhid, dengan tuntunan syari’at dan dengan tujuan taat dan mengharapkan ridha Allah.

    G. Fungsi dan Peran Manusia Di Bumi

    1. Fungsi Manusia
    Fungsi manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana firman-Nya:

    30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah/ 2 : 30)

    Arti khalifah fil ardhi adalah mandataris Allah untuk melaksanakan hukum-hukum dan merealisasikan kehendak-kehendak-Nya di muka bumi. Manusia telah dipilih oleh Allah sebagai khalifah-Nya. Untuk melaksanakan fungsinya itu, Allah mengajarkan manusia ilmu (Asmaa kullaha)

    2. Peran Manusia
    Tugas manusia adalah memelihara amanah yang Allah pikulkan kepadanya, setelah langit, bumi dan gunung-gunung enggan memikulnya. Sebagaimana Firman-Nya:

    72. Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (Al Ahzab/ 33 : 72)

    Amanah Allah itu adalah berupa tanggung jawab memakmurkan bumi dengan melaksanakan hukum-hukum-Nya, dalam kehidupan manusia di bumi ini. Sebagaimana yang telah Allah tegaskan kepada Nabi Daud as.

    26. Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan. (As Shaad/ 38 : 26)

    Untuk menunaikan tanggung jawab yang dipikulkan kepadanya, manusia harus mengarahkan segala potensi (baik internal maupun eksternal) yang ada pada dirinya, dan harus sanggup berkorban dengan jiwa dan hartanya. Dengan pengarahan potensi dan kesanggupan berkorban, maka tugas dan puran manusia untuk mewujudkan kekhalifahan dan menegakan hukum-Nya pasti akan dapat terwujud.

    Adapun manusia yang tidak mau melaksanakan tugas enggan merealisasikan tugas dan perannya, maka ia adalah manusia yang jahil (bodoh) dan dzalim.
    Sebagaimana yang disinyalir oleh Allah SWT:

    72. Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (Al Ahzab/ 33 : 72)

    Berdasarkan sikap dan pandangannya terhadap hidup, maka ada 3 (tiga) jalan hidup yaitu:

    1. Hidup Hissy : hidup demi kepentingan sendiri
    2. Hidup Ma’nawy : kehidupan yang digunakan untuk menjalani hukum Allah, tetapi belum mempunyai keyakinan yang kuat dan teguh, sehingga mudah berubah haluan hanya karena ada sangkutan dengan salah satu kepentingan keduniaan.
    3. Hidup Ma’any : hidup untuk beramal sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya, hanya mengharapkan ridha Allah, tidak mengenal sukar, sulit, susah, takut dan was-was dalam menjalankan perintah Allah SWT.

    Sementara itu ada beberapa tingkatan hidup manusia, yaitu:

    1. Mittaqien:
    Yaitu orang yang bertaqwa, orang yang memelihara dirinya dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangannya (QS. 2:2-5)
    2. Mu’min:
    Yaitu orang yang mempercayai dengan sepenuh hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan pokok-pokok keimanan (QS. 49:15 dan QS. 23:1-11)

    3. Muslim:
    Yaitu orang yang tunduk, patuh serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah (QS. 2:131-132 dan QS. 49:14)

    4. Fasik:
    Yaitu orang yang mu’min atau muslim yang secara sadar melanggar ajaran2 Allah (QS. 2:27 dan QS. 7:165 dan QS. 9:24 dan QS. 17:16)

    5. Musyrik:
    Yaitu orang yang mempersekutukan Allah, mengakui adanya tuhan selain Allah / mensejajarkan sesuatu dengan Allah (QS. 4:48, QS. 6:22, 31, QS. 9:113, QS. 18:102, QS. 25:13, QS. 41: 20-39)

    6. Munafiq:
    Yaitu orang yang tidak mendapat hidayah/petunjuk dari Allah sebagai jalan hidupnya, yang ditempuh tidaklah mengandung nilai-nilai ibadah dan segala amal yang dikerjakannya tidak mencari keridhaan Allah, karena antara yangdiucapkan tidak sama dengan apa yang terlintas dalam hatinya, ataupun perbuatannya. (QS. 2:8-9, QS. 4:61, 139, 142.)

    7. Kafir :
    Yaitu orang yang ingkar (menolak) atau tidak beragama Islam (QS. 2:6-7, QS. 4: 150 – 151).

    8. Murtad :
    Yaitu orang yang keluar dari agama Islam, yang mengingkari semua tentang agama Islam, baik dalam keyakinan, ucapan ataupun perbuatan (QS. 2: 217).

    H. Perjalanan Hidup Manusia
    Selama perjalanan hidupnya, manusia mengalami 7 (tujuh) alam yaitu: alam ruh, alam rahim, alam dunia, alam kubur (barzah), alam mahsyar, alam hisab dan alam akhirat.

    Pada saat ini kita berada dalam alam yang ketiga, yaitu alam dunia. Di alam dunia ini manusia terlahir untuk melaksanakan tugas hidupnya. Sebagaimana firman Allah:

    30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al baqarah/ 2:30).

    Juga firmannya:

    165. Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya dia maha pengampun lagi maha penyayang. (QS. Al An’am/ 6:165).

    Manusia mengalami berbagai ujian dan cobaan, apakah masih memegang janjinya sewaktu masih di alam ruh, yaitu untuk meng-Esa kan Allah. Sebagaimana firman-Nya:

    172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”, (Al A’Raaf/ 7:172)

    Manusia yang selamat, adalah yang selalu mengikuti hidayah Al Qur’an selama di alam dunia ini.

    I. Sifat Dasar Manusia dan Cara Mengatasinya.
    Manusia diciptakan beserta sifat-sifat dasar, disamping sifat positif jaga yang negatif. Apabila tidak diarahkan kearah yang positif, maka akan menjatuhkan dirinya kedalam kerugian. Allah berfirman :

    1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al Ashr/ 103 : 1-3)

    Hal ini, merupakan masalah yang sangat serius, karena apabila manusia tetap pada tabiat dasar itu (zduluman jahula, misalnya) maka ia berada dalam kerugian yang nyata. Oleh karena itu, manusia harus berjuang untuk mengatasinya. Secara umum mengatasinya adalah dengan beriman kepada Allah dan melaksanakan amal shaleh, serta saling nasihat-menasihati untuk tetap dalam haq dan kesabaran.

    Untuk itu marilah kita mengenali sifat-sifat dasar itu dan cara mengatasinya.

    1. Keluh Kesah dan Kikir.
    Allah berfirman dalam surat (Al Ma’arij/ 70 : 19-21)

    19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. 20. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, 21. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,

    Keluh kesah dan kikir, timbul karena tidak adanya rasa syukur atas karunia yang Allah berikan dan tidak sabar atas cobaannya. Sehingga ia senantiasa merasa kurang dan tidak cukup dalam segala hal dan tidak sabar atas musibah-musibah yang menimpanya. Apabila sifat ini dituruti, maka manusia akan terombang ambing dalam keragu-raguan, dan sikap syu’u dzan kepada Allah, sehingga mengingkari ni’mat yang telah Allah berikan.

    Untuk itu, sifat ini harus diluruskan, dan diarahkan kepada arah yang benar, yaitu dengan mengerjakan shalat dan amalan-amalan shaleh lainnya. Sedangkan untuk mengatasi sifat kikir yaitu dengan menginfakkan harta kepada fakir miskin.
    Sebagaimana firman Allah di bawah ini:

    19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. 20. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, 21. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, 22. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, 23. Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, 24. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, 25. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), 26. Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, 27. Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. 28. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). 29. Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, 30. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki[1512], Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada tercela. 31. Barangsiapa mencari yang di balik itu[1513], Maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. 32. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. 33. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. 34. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. 35. Mereka itu (kekal) di syurga lagi dimuliakan. 36. Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu, (Al Ma’arij/ 70 : 19-36)

    2. Lemah
    Allah SWT berfirman :

    28. Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (An Nisa/ 4 : 28)

    Dengan adanya kelemahan pada manusia, Allah memberikan ruhshah (keringanan dan kemudahan) baginya. Untuk mengatasi kelemahannya itu manusia harus menerima kemudahan dan keringanan yang Allah berikan bagi manusia mendapatkan balasan yang memadai dari apa yang telah diusahakan sesuai dengan keadaannya.

    Sebagaimana Firman Allah di bawah ini:

    39. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, (An Najm/ 53:39)

    3. Susah Payah
    Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang sangat berat, yaitu adanya berbagai halangan dan rintangan yang harus dihadapinya, sebagaimana Firman-Nya:

    4. Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (Al Balad/ 90 : 4)

    Cara mengatasinya adalah dengan mengadakan perjuangan untuk membebaskan perbudakan manusia dari manusia. Apabila manusia enggan mengadakan perjuangan maka ia akan senantiasa di dalam kesusah payahan itu. Oleh karena itu, ia harus bangkit mempergunakan potensi yang ada dan menyusun kekuatan bersama-sama untuk perjuangan pembebasan tersebut. Sebagaimana Firma Allah di bawah ini:

    10. Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan[1578], 11. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. 12. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? 13. (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, 14. Atau memberi makan pada hari kelaparan, 15. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, 16. Atau kepada orang miskin yang sangat fakir. 17. Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. 18. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan. (Al Balad/ 90 :10-18)

    4. Tergesa–gesa
    Allah berfirman :

    11. Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (Al Isra/ 17 :11)

    Tergesa-gesa ialah ingin mendapatkan sesuatu dengan segera, tanpa melalui proses yang seharusnya. Karena ketergesa-gesaan itu, maka manusia sering terjerembab ke jalan yang salah, sehingga hanya menghasilkan kekecewaan. Karena tergesa-gesa adalah merupakan sifat negatif, maka ia harus ditundukkan dan diarahkan ke jalan yang benar.

    Cara mengatasinya adalah dengan bersabar, sebagaimana diperintahkan Allah dalam Firman-Nya:

    35. Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik. (Al Ahqaaf/ 46 : 35)

    J. Musuh Besar dan Teman Sejati Manusia

    1. Musuh Besar
    Musuh besar manusia adalah syaitan (iblis la’natullah) dan golongannya yaitu orang-orang yang mengikuti jalan kesesatan. Mereka senantiasa meniupkan bisikan jahat (yuwaswisu fisudurinnas) ke dalam dada manusia. Al Qur’an telah mempertegas: syetan itu adalah musuh yang harus benar-benar dijadikan musuh. Karena syetan itu akan menggiring orang-orang yang mengikutinya ke dalam api neraka.
    Sebagaimana firman Allah SWT di bawah ini:

    (5). Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (6). Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (Faathir/ 35 : 5-6)

    Pernyataan permusuhan syetan (iblis) itu telah ia proklamirkan di hadapan Allah ketika ia terusir dari syurga.

    Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di bawah ini :

    61. Dan (ingatlah), tatkala kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. dia berkata: “Apakah Aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?” 62. Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan Aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”. 63. Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. (Al Isra/ 17 : 61-63)

    Juga Allah firman:

    11. Sesungguhnya kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu, kemudian kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, Maka merekapun bersujud kecuali iblis. dia tidak termasuk mereka yang bersujud. 12. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. 13. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. 14. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya[529] sampai waktu mereka dibangkitkan”. 15. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” 16. Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, 17. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). 18. Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”. (Al Araf/ 7 : 11-18)

    Juga Allah berfirman:

    34. Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah[36] kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Al Baqarah/ 2 : 34)

    Juga Allah berfirman:

    71. (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. 72. Maka apabila telah kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”. 73. Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, 74. Kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. 75. Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. 76. Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan Aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”. 77. Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, 78. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”. 79. Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah Aku sampai hari mereka dibangkitkan”. 80. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, 81. Sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)”. 82. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya, 83. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. 84. Allah berfirman: “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan”. 85. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya. (Shaad/38 : 71 – 85)

    Orang-orang yang sesat dan mengikuti bujuk rayu syetan, mereka adalah hizbus syaithan / golongan syaithan. Mereka sangat giat menyuarakan kebathilan dan menghalangi tegaknya kebenaran. Mereka adalah manusia yang merugi dunia dan akhirat, lalu akan dilemparkan kedalam neraka jahanam. Allah berfirman:

    19. Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi. (Al Mujadillah/ 58:19)

    Juga Allah berfirman:
    63. Tuhan berfirman: “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. (Al Isra/ 17 : 63)

    2. Teman Sejati Manusia

    Adapun teman sejati manusia adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang melaksanakan syariahnya. Yang konsisten menegakan kebenaran. Mereka adalah hizbullah dan hanya hizbullahlah yang akan meraih kemenanan. Sebagaimana Firman Allah:

    22. Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan[1462] yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (Al Mujadillah/ 58 : 22)

    Contoh utama sebagai teman sejati adalah Rasulullah, karena beliau yang sangat merasakan penderitaan teman, yang sangat menginginkan keselamatan teman dan juga yang amat belas kasih terhadap teman sebagaimana Firman Allah:

    128. Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Al Araf/ 9 : 128)

    Manusia yang potensi internalnya sudah imaniyah dan tidak mengambil teman di luar hizbullah, karena pada akhirnya mampu menghantarkan kepada yang Ma’ruf. Sebagaimana Firman Allah di bawah ini:

    118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (Ali Imran/ 3 : 118)

    Dengan demikian, jelas siapa yang harus dijadikan kawan dan siapa yang harus dijadikan lawan. Maka hendaknya manusia mengambil kawan yang layak dijadikan kawan dan memperlakukan lawan layaknya sebagai lawan. Dengan tegas Rasullulah SAW telah memperingatkan betapa besar pengaruh kawan terhadap kepribadian kita. Sebagaimana sabda beliau yang artinya:

    ”Seseorang itu mengikuti dien temannya maka hendaknya ia memperhatikan siapa yang menemaninya”( HR Abu Daud dan Tirmidzi)

    Sabda Nabi tersebut menerangkan, bahwa seseorang itu akan mengikuti agama, kebiasaan, adat-istiadat, tabiat temannya. Hal ini, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh teman dalam membentuk dan mewarnai perilaku manusia, baik pengaruh kepada kebaikan dan kepada keburukan. Karena sangat strategisnya teman ini, maka apabila manusia ingin senantiasa berada dalam kebaikan, maka harus memilih teman yang baik yaitu Mu’min sejati.

    K. Pola Hidup Manusia Sepanjang Sejarah
    Allah Berfirman:

    2. Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur[1535] yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu kami jadikan dia mendengar dan melihat. 3. Sesungguhnya kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Al Insan/ 76:2-3)

    Di dalam menyikapi ni’mat yang telah Allah berikan kepadanya, manusia terpecah menjadi dua, ada yang bersyukur dan ada yang kafir.

    Orang-orang yang bersyukur itu adalah mu’min muttaqien. Mereka mempergunakan ni’mat-ni’mat itu untuk menunjang terpenuhinya kewajiban-kewajiban yang telah diperintahkan kepadanya.

    Sedangkan orang yang kafir mendapat ni’mat dari Allah untuk menentang kehendak Allah. Orang yang kafir ini, terbagi menjadi dua yaitu: (1) yang dengan jelas dan terang-terangan menyatakan kafir kepada Allah. Dan (2) yang menampakan keimanan sedang dalam hati ingkar, mereka adalah orang-orang yang munafiq.

    1. Pola Hidup Orang Mu’min Mutaqien
    Mereka berjalan di atas petunjuk Allah shirathal mustaqim. Senantiasa melaksanakan dan menjaga syariat-syariat Allah, menegakkan shalat, menginfakkan hartanya di jalan Allah, mengimani kitab-kitab Nya dan mengimani hari akhirat. Allah membimbing golongan itu, karena ketaqwaannya di atas petunjuknya dan memasukkannya kedalam syurga-Nya. Allah SWT berfirman:

    2. Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
    3. (yaitu) mereka yang beriman, kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki, yang kami anugerahkan kepada mereka.
    4. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
    5. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (Al Baqarah/ 2:2-5)

    Orang-orang yang mukmin mutaqien rela mengorbankan seluruh hidupnya (baik harta dan jiwa) untuk mencari keridhaan Allah. Allah berfirman:

    207. Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (Al Baqarah/ 2:207)

    2. Pola Hidup Orang Kafir
    Orang-orang kafir menjalani hidupnya dengan menolak wahyu (petunjuk) Allah dan lebih memilih ideologi sesatnya fastahabbul’amma alal huda. Sebagaimana firman-Nya:

    17. Dan adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. (Fushillat/ 41:17)

    Meraka adalah orang-orang yang tuli, pekak dan bisu tidak mau mendengarkan peringatan, sebagai mana firman Allah:

    6. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. 7. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Al Baqarah/ 2:6-7)

    Mereka mengikuti jejak para penentang kebenaran, iblis la’natullah, Fira’un, Namrudz, Abu Jahal dan lain-lain dengan menyombongkan diri menolak wahyu Allah dan membuat kerusakan di muka bumi.

    Mereka senantiasa menentang Allah, dengan membuat tandingan-tandingan yang mereka sembah (agung-agungkan) dengan penuh kecintaan. Karena kekafirannya itu, Allah menutup hati mereka, membutakan mata mereka, menggiring mereka di atas jalan yang sesat dan memasukannya kedalam neraka jahanam, satu tempat kembali yang sangat buruk. Maka Allah berfirman:

    165. Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Al Baqarah/ 2:165)

    3. Pola Hidup Orang Munafik
    Orang-orang yang munafik secara lahiriyah beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan hari Akhirat. Keimanannya ia persaksikan dengan sebenar-benarnya, tetapi mereka bukanlah orang yang beriman.

    Golongan ini hidup di tengah-tengah kaum mu’minin. Mereka juga mendengar wahyu-wahyu Allah yang disampaikan, namun karena hatinya berpenyakit, wahyu itu tidak bermanfaat sedikitpun.

    Orang-orang munafik ini tidak memiliki komitmen dan loyalitas yang jelas kepada Islam, sehingga mereka rela menukar hidayah Allah dengan kesesatan. Mereka tetap loyal kepada syetan-syetan mereka (musuh-musuh Islam), mengadakan makar untuk menghancurkan Islam. Pola hidup munafik ini dengan jelas diterangkan dalam surah (Al Baqarah/ 2:8-16). Maka Allah berfirman:

    8. Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. 9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. 10. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. 11. Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” 12. Ingatlah, sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. 13. Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. 14. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” 15. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. 16. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

    Allah telah memberikan perumpamaan tentang pola hidup mereka itu, dalam ayat yang sangat indah: (QS. Al Baqarah/2:17-20)

    17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat Melihat. 18. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), 19. Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, Karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. 20. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

    Betapa orang-orang munafik tidak mengambil manfaat dari wahyu-wahyu Allah (hujan) yang senatiasa diturunkan, karena keragu-raguan yang ada dalam hatinya. Yang mereka tangkap adalah kerasnya suara guntur yang memekakkan telinganya dan kilatan petir yang seakan membutakan matanya, ia menutup telinga dengan telunjuknya, sehingga tuli dan tidak mendengar peringatan Allah yang terkandung di dalamnya.

    Golongan ini, beribadah kepada Allah barada di tepian, bergerak sesuai dengan situasi dan kondisi. Sekiranya menguntungkan, maka ia tetap dalam kondisi itu, tetapi manakala ia pandang merugikan dirinya, maka ia mundur kebelakang. Mereka terombang-ambing dalam keragu-raguan dan Allah memasukkan mereka ke dalam neraka jahannam.
    Sebagaimana firman-Nya:

    11. Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Al Hajj/ 22:11)

    Allhamdulillaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: